Jumat, 08 Maret 2013

Senator Muda yang visioner dan berwawasan , mengabdi dari hati untuk NTB

Kiyai dan Senator muda asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang satu ini, dikenal memiliki integritas tinggi, amanah, bersikap jujur dan mampu mengemban kepercayaan. Profesional, memiliki pengetahuan dan kemampuan serta memahami dan mampu mengimplementasikannya.
Bertanggungjawab, memahami resiko pekerjaan dan berkomitmen untuk mempertanggungjawabkan hasil kerjanya. Kreatif, memiliki pola pikir, cara pandang, dan pendekatan yang variatif terhadap setiap permasalahan. Disiplin, taat kepada tata tertib dan aturan yang ada serta mampu mengajak orang untuk bersikap sama. Peduli, menyadari dan mau memahami serta memperhatikan kebutuhan dan kepentingan pihak lain.
Pada kalangan muda Kiyai dan Senator muda ini dikenal visioner dan berwawasan, bekerja berlandaskan pengetahuan dan informasi yang luas serta wawasan yang jauh ke depan, selalu menjadi tauladan, berinisiatif untuk memulai dari diri sendiri dalam melakukan hal-hal baik, sehingga menjadi contoh bagi orang lain.
Memotivasi, memberikan dorongan dan semangat bagi pemuda untuk berusaha mencapai tujuan bersama, selalu memberikan inspirasi dan memberikan dorongan agar pemuda tergerak untuk menghasilkan karya terbaiknya. Memberdayakan kaum muda, selalu memberikan kesempatan dan mengoptimalkan daya usaha pemuda sesuai kemampuannya.
Membudayakan menjadi motor penggerak dalam pengembangan masyarakat menuju kondisi yang lebih berbudaya. Koordinatif dan bersinergi dalam kerangka kerja, bekerja secara terukur dengan prinsip yang standar serta memberikan hasil kerja yang dapat dipertanggungjawabkan.
Senator muda ini berharap semoga lembaga DPD RI selalu peka dan mampu dengan segera menindaklanjuti tuntutan yang selalu berubah, terbuka atas kritik dan masukan.
Memiliki pemikiran untuk membangun NTB kedepannya dengan mengedepankan pada diri dengan berpikir “Mengabdi dari hati untuk NTB” dan Sahabat Generasi Bangsa merupakan bagian dari bentuk pemikirannya sejak dulu.
Adalah DR. H. LL. Abd. Muhyi Abidin,MA sosok Kiyai, Senator, dan salah seorang tokoh agama, di Nusa Tenggara Barat yang akrab di panggil dengan panggilan Tuan Guru Muhyi, sedangkan dilingkungan Anggota DPD RI biasa dipanggil Senator Muda.
Tuan Guru Muhyi, lahir di Lombok Timur pada Tanggal 9 April 1966, beralamat di jalan Abdullah 26 RT. 02 Karang Sukun Kelurahan Selong Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat dari Pasangan TGH Zainal Abidin Hasyim dan Hj. Siti Hadijah.
Tuan Guru Muhyi menikah pada hari Rabu 8 Maret 2000 dengan Hj. Lale Syifa’un Nufus. S.Farm salah seorang cucu dari pendiri Ormas Islam terbesar di Indonesia Timur yaitu NW. Dan dikaruniai dua orang anak yaitu Lalu Mas Sulthanul Auliya dan Lalu Mas Sami Assegaf.



Profile

Nama Lengkap : DR. HL. Abd Muhyi Abidin, MA
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat & Tanggal Lahir : Lombok Timur, 09 April 1966
Agama : Islam
Status Pernikahan : Kawin
Nama Istri : Hj. Lale Syifa’un Nufus, S.Farm
Pekerjaan Istri : -
Jumlah Anak : 2 orang
Alamat Rumah : Jl. Abdullah 26 RT 20 Karang Sukun, Selong, Lombok Timur
Telpon, Fax Rumah : -
Alamat Kantor : Gedung A DPD-RI Lantai 3 Ruang NTB Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta
Telpon, Fax Kantor : 021-57897226/021-57897227
Website, Email :
Keterangan :

DAERAH PEMILIHAN, PEROLEHAN SUARA & JUMLAH KURSI DI DP
Asal Daerah Pemilihan(DP) : NTB
No Urut Calon : 18
Bilangan Pembagi Pemilihan : 1.801.294
Perolehan Suara : 123.324 suara (6,3%)

RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Tahfizul Qur’an Makkah
2. S1, Insitut PTIQ Jakarta
3. S2, Institut PTIQ Jakarta
4. S3, UNJ

PENGALAMAN/JABATAN DI ORGANISASI
1. Wasekjen Pemuda Reformasi (2002)
2. Wasekjen PB.NW (2005-2011)
3. Pendiri LSM LPEM Pena (2006)
4. Ketua FOKSIKA/IKA (Ikatan Alumni) PMII DKI (2007-Skrg)
5. Ketua Pimpinan Pusat Pemuda NW
6. Sekjend PB. NW (2011-sekarang)
7. Ketua DPD Partai Gerindra NTB (2012-skrng)

RIWAYAT PEKERJAAN
1. Dosen ISIQ (1997)
2. Dosen IAIH Lombok Timur
3. Dosen UNW Mataram
4. Manager Marketing PT. Taliwang Bersaudara Jakarta (1999)
5. Pengusaha Jual Beli Mobil, Bali (1990)

RIWAYAT JABATAN DI LEGISLATIF
• Anggota DPD RI Periode 2004-2009
• Anggota DPD RI Periode 2009-2014

RIWAYAT JABATAN DI EKSEKUTIF
KEANGGOTAAN/JABATAN DI LEGISLATIF
• Komite III DPD RI Pimpinan
• Komite IV DPD (Anggota)
• PPUU DPD (Anggota)

sumber:http://mataramnews.com/figur/977-senator-muda-yang-visioner-dan-berwawasan-mengabdi-dari-hati-untuk-ntb.html

Sabtu, 09 Februari 2013

VALINTINE DAY MENURUT PANDANGAN ISLAM

Benarkah ia hanya kasih sayang belaka ?
 
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)
 
Hari 'kasih sayang' yang dirayakan oleh orang-orang Barat pada tahun-tahun terakhir disebut 'Valentine Day' amat popular dan merebak di pelusuk Indonesia bahkan di Malaysia juga. Lebih-lebih lagi apabila menjelangnya bulan Februari di mana banyak kita temui jargon-jargon (simbol-simbol atau  iklan-iklan) tidak Islami hanya wujud demi untuk mengekspos (mempromosi) Valentine. Berbagai tempat hiburan bermula dari diskotik(disko/kelab malam), hotel-hotel, organisasi-organisasi mahupun kelompok-kelompok kecil; ramai yang berlumba-lumba menawarkan acara untuk merayakan Valentine. Dengan  dukungan(pengaruh) media massa seperti surat kabar, radio mahupun televisyen; sebagian besar orang Islam juga turut dicekoki(dihidangkan) dengan iklan-iklan Valentine Day.

 SEJARAH VALENTINE:
Sungguh merupakan hal yang ironis(menyedihkan/tidak sepatutnya terjadi) apabila telinga kita mendengar bahkan kita sendiri 'terjun' dalam perayaan Valentine tersebut tanpa mengetahui sejarah Valentine itu sendiri. Valentine sebenarnya adalah seorang martyr (dalam Islam disebut 'Syuhada') yang kerana kesalahan dan bersifat 'dermawan' maka dia diberi gelaran Saint atau Santo.
Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi pada waktu itu iaitu Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.
 
Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.
 
Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani(Kristian), pesta 'supercalis'  kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.
 
Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti 'galant atau cinta'. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang 'martyr' bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya(jauh dari erti yang sebenarnya). Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine lewat (melalui) greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado(bertukar-tukar memberi hadiah) dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.
 
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment(hal/saat/waktu) ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merosak 'akidah' muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat  dengan kedok percintaan(bertopengkan percintaan), perjodohan dan kasih sayang.

PANDANGAN ISLAM 
Sebagai seorang muslim tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah kita akan mencontohi begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari Islam ?
 
Mari kita renungkan firman Allah s.w.t.:
Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surah Al-Isra : 36)

Dalam Islam kata “tahu” berarti mampu mengindera(mengetahui) dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekadar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, kapan(bila), bagaimana, dan di mana, akan tetapi lebih dari itu.
 
Oleh kerana itu Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng(mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut Taqlid.
Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Firman Allah s.w.t. dalam Surah AL Imran (keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.
HAL-HAL YANG HARUS DIBERI PERHATIAN:-
Dalam masalah Valentine itu perlu difahami secara mendalam terutama dari kaca mata agama kerana kehidupan kita tidak dapat lari atau lepas dari agama (Islam) sebagai pandangan hidup. Berikut ini beberapa hal yang harus difahami di dalam  masalah 'Valentine Day'.
 
1. PRINSIP / DASAR
   Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama  Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.

 
2. SUMBER ASASI
   Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.

Firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.
Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan  mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.

3. TUJUAN
   Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan      yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.
 
4. OPERASIONAL
Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara.

Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan    syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27)
Surah Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi : “…walaupun kamu membelanjakan    semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat    mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati    mereka. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Sudah jelas ! Apapun alasannya, kita tidak dapat menerima kebudayaan import dari luar yang nyata-nyata bertentangan dengan keyakinan (akidah) kita. Janganlah kita mengotori akidah kita dengan dalih toleransi dan setia kawan. Kerana kalau dikata toleransi, Islamlah yang paling toleransi di dunia.
 
Sudah berapa jauhkah kita mengayunkan langkah mengelu-elukan(memuja-muja) Valentine Day ? Sudah semestinya kita menyedari sejak dini(saat ini), agar jangan sampai terperosok lebih jauh lagi. Tidak perlu kita irihati dan cemburu dengan upacara dan bentuk kasih sayang agama lain. Bukankah Allah itu Ar Rahman dan Ar Rohim.  Bukan hanya sehari untuk setahun. Dan bukan pula dibungkus dengan hawa nafsu. Tetapi yang jelas kasih sayang di dalam Islam lebih luas dari semua itu. Bahkan Islam itu merupakan 'alternatif' terakhir setelah manusia gagal dengan sistem-sistem lain.
 
Lihatlah kebangkitan Islam!!! Lihatlah kerosakan-kerosakan yang ditampilkan oleh peradaban Barat baik dalam media massa, televisyen dan sebagainya. Karena sebenarnya Barat hanya mengenali perkara atau urusan yang bersifat materi. Hati mereka kosong dan mereka bagaikan 'robot' yang bernyawa.
 
MARI ISTIQOMAH (BERPEGANG TEGUH)
Perhatikanlah Firman Allah :

…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”.
 
Semoga Allah memberikan kepada kita hidayahNya dan ketetapan hati untuk dapat istiqomah dengan Islam sehingga hati kita menerima kebenaran serta menjalankan ajarannya.
Tujuan dari semua itu adalah agar diri kita selalu taat sehingga dengan izin Allah s.w.t. kita dapat berjumpa dengan para Nabi baik Nabi Adam sampai Nabi Muhammad s.a.w.
Firman Allah s.w.t.:
Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka dia akan bersama orang-orang yang diberi nikmat dari golongan Nabi-Nabi, para shiddiq (benar imannya), syuhada, sholihin (orang-orang sholih), mereka itulah sebaik-baik teman”.
 
Berkata Peguam Zulkifli Nordin (peguam di Malaysia) di dalam kaset 'MURTAD' yang mafhumnya :-
"VALENTINE" adalah nama seorang paderi. Namanya Pedro St. Valentino. 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Sepanyol. Paderi ini umumkan atau isytiharkan hari tersebut sebagai hari 'kasih sayang' kerana pada nya Islam adalah ZALIM!!!  Tumbangnya Kerajaan Islam Sepanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Semoga Anda Semua Ambil Pengajaran!!! Jadi.. mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini kerana hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam kita di Sepanyol..
WALLAHU 'ALAM BISSAWAB.

"SEMOGA BERMANFAAT"
sumber:http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/valentineday.htm

Minggu, 27 Januari 2013

ARTIKEL ISLAMI

Siapa Harut & Marut?

andromeda“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Baqoroh : 102)
KISAH dan  penyebutan nama Harut Marut dalam Al-Quran, hanya disebutkan satu kali, yaitu dalam surat al-Baqarah ayat 102. Bahkan, penyebutan kisahnya pun sangat pendek, tidak panjang juga tidak detail.
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Dan perbedaan ini erat kaitan dengan penafsiran maksud dari kata ‘malakain’ (dua malaikat).
Pendapat pertama, Harut dan Marut adalah dua nama kabilah jin yang mengajarkan sihir. Dengan demikian kata Harut dan Marut merupakan badal dari kata ‘asy-syayâthîn’ (setan-setan). Pendapat ini adalah dinisbahkan oleh Ibnu Katsir kepada pendapatnya Ibnu Hazm, hanya saja Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan pendapat ini adalah pendapat yang sangat aneh dan asing.
Lalu jika Harut dan Marut merupakan badal dari kata ‘asy-syayâthîn’, lalu siapakah yang dimaksud dengan ‘malakain’ dalam ayat tersebut? Menurut pendapat ini, kata ‘malakain’ dimaksudkan adalah Jibril dan Mikail. Hal ini mengingat orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Allah telah menurunkan Jibril dan Mikail untuk mengajarkan sihir, lalu Allah menolak anggapan tersebut, dengan mengatakan: “Sulaiman tidak kufur (tidak mengajarkan sihir), juga demikian dengan Jibril dan Mikail. Akan tetapi yang  kufur itu adalah setan-setan, di mana merekalah yang mengajarkan sihir kepada manusia di daerah Babil, yaitu melalui Harut dan Marut”.
Demikian penggambaran Imam al-Qurthubi dalam al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’an-nya, ketika menggambarkan penafsiran pendapat pertama. Hanya saja, pendapat ini, sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir adalah pendapat yang sangat aneh dan  asing (aghrab jiddan).
Pendapat kedua mengatakan, Harut dan Marut adalah manusia jahat yang mengajarkan sihir  di daerah Babil, dan Babil adalah sebuah daerah di Irak atau di Kufah. Pendapat ini diutarakan oleh Imam Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya Jâmiul Bayân fi Ta’wîl Al-Quran, ketika menjelaskan beberapa pendapat seputar maksud Harut dan Marut. Namun demikian, di akhir pemaparan Imam at-Thabari melemahkan pendapat ini.
Jika yang dimaksudkan dengan Harut dan Marut adalah manusia biasa, lalu siapa yang dimaksud dengan ‘malakain’?
Sebagaimana pendapat pertama, pendapat ini mengatakan bahwa ‘malakain’ maksudnya adalah Jibril dan Mikail. Ini untuk menolak anggapan orang Yahudi saat itu yang mengatakan bahwa Nabi Sulaiman bin Daud bukan seorang Nabi akan tetapi seorang tukang sihir, yang mana sihirnya itu diajarkan melalui Jibril dan Mikail. Allah kemudian membantah anggapan demikian dengan mengatakan bahwa Jibril dan Mikail tidak mengajarkan sihir sedikitpun, sehingga dengan demikian Nabi Sulaiman terbebas dari tuduhan tersebut. Kelebihan yang dimiliki Nabi Sulaiman, bukanlah hasil dari sihir akan tetapi mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi-Nya.
Pendapat ketiga, mengatakan Harut dan Marut adalah orang shaleh dan sangat baik yang tinggal di Babil. Karena kesalehannya, orang-orang memuliakan dan menganggapnya seperti malaikat. Dengan demikian, kata ‘malakain’ dalam ayat di atas merupakan bentuk isti’arah atau majaz dari dua sosok manusia saleh yang bernama Harut dan Marut. Karenanya, kata Harut dan Marut merupakan badal dari kata ‘malakain’ hanya dalam pengertian majaz bukan pengertian sebenarnya sebagai malaikat.
Harut dan Marut, menurut pendapat ini, dapat mengetahui sihir dan bahkan keduanya yang meletakkan dasar-dasar ilmu sihir di negeri Babil, Irak. Keduanya orang baik dan tidak kufur dengan sihirnya itu, hanya saja orang-orang setelahnya yang menggunakan ilmu sihir tersebut untuk hal-hal tidak baik sehingga mereka menjadi kufur. Demikian pemaparan Thahir bin Asyur dalam at-Tahrir wat Tanwir-nya, ketika menjelaskan ayat 102 dari surat al-Baqarah.
Harut dan Marut, lanjut Ibnu Asyur, adalah dua nama suku Kaldan. Kata Harut merupakan nama Arab dari bahasa Kaldan, Hârûkâ, yang merupakan nama bulan sebagai symbol perempuan bagi suku Kandan. Sedangkan Marut merupakan nama Arab dari kata Mârûdâkh, yang merupakan nama bintang bagi suku Kaldan, sebagai simbol laki-laki.
Baik Hârûkâ maupun Mârûdâkh keduanya merupakan di antara bintang yang disucikan dan disembah oleh suku Kandan. Dan penyandaran kedua nama ini kepada nama bintang, adalah karena keyakinan mereka bahwa setiap orang saleh ketika sudah meninggal dunia, ia akan naik ke langit dan berubah dalam bentuk bintang atau benda langit lainnya. Dengan demikian, Harut dan Marut adalah dua orang saleh yang namanya kemudian diabadikan sebagai nama bintang sembahan suku Kaldan. Demikian pemaparan Ibnu Asyur dalam tafsirnya.
Sebagian ulama membacanya bukan ‘malakain’, akan tetapi ‘malikain’ (dengan membaca kasrah huruf lam-nya yang berarti dua raja). Di antara ulama yang membaca dengan ‘malikain’ ini, dinisbahkan oleh Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, kepada pendapatnya ibnu Abbas, Ibn Abza, ad-Dhahhâk dan al-Hasan al-Bashri. Dan yang dimaksud dengan dua raja ini adalah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Hanya saja, bacaan ini adalah bacaan yang syadzdzah (ganjil), dan dilemahkan oleh Ibnul Araby.
Pendapat keempat, Harut dan Marut adalah malaikat yang diturunkan oleh Allah sebagai ujian dan cobaan bagi manusia saat itu. Keduanya mengajarkan sihir, dengan maksud agar orang-orang dapat membedakan mana sihir dan mana mukjizat. Hal ini penting mengingat sihir di daerah Babil saat itu sudah sangat membudaya dan membesar, sehingga mereka tidak dapat lagi membedakan antara mukjizat dan sihir. Mereka menganggap para nabi yang diutus bukan sebagai nabi akan tetapi tukang sihir. Allah lalu menurunkan dua malaikat, Harut dan Marut sebagai ujian bagi manusia saat itu. Mereka yang beriman akan tetap kokoh dengan keimanannya, dan mereka yang tidak beriman akan teperdaya dengan sihir tersebut.
Pendapat ini mengatakan, bahwa kata Harut dan Marut merupakan badal dari kata ‘malakain’, yang berarti dua malaikat dalam pengertian sebenarnya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, pendapat ini merupakan pendapat Jumhur ulama salaf, termasuk juga pendapat sebagian besar mufassirin, baik yang dahulu maupun yang belakangan.
Lalu jika ditanyakan, kalau seandainya Harut dan Marut itu adalah malaikat, bagaimana mungkin dia mengajarkan sihir yang jelas-jelas sangat dilarang?
Imam at-Thabari menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan: “Sesungguhnya Allahlah yang telah menurunkan kebaikan dan kejahatan semuanya. Dan Allah juga menjelaskan akibat dari semua itu kepada hamba-hamba-Nya. Allah kemudian mewahyukan kepada para utusan-Nya untuk mengajarkan kepada makhluk-Nya mana yang halal dan mana yang haram bagi mereka. Hal ini seperti zina, mencuri dan seluruh perbuatan maksiat lainnya yang diperkenalkan kepada manusia serta melarang manusia melakukannya. Dan Sihir juga termasuk salah satu dari makna dimaksud, yang disampaikan dan dilarang untuk menggunakannya”.
Imam at-Thabari kemudian menukil pendapat yang mengatakan: “Mereka juga berpendapat: “Mengetahui ilmu sihir itu tidak berdosa, sebagaimana tidak berdosanya seseorang yang mengetahui cara membuat minuman keras, memahat patung. Letak dosa itu manakala ia mengamalkannya dan mempraktikkannya”. Demikian di antara pemaparan Imam at-Thabari mengokohkan pendapat keempat ini.
Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menguatkan pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa Harut dan Marut merupakan dua malaikat yang diturunkan menjelaskan bahaya sihir sebagai ujian dan fitnah bagi manusia. Dan bagi Allah, lanjut al-Qurthubi, sangat berhak untuk menguji hamba-Nya menurut kehendak-Nya, sebagaimana Dia telah menguji dengan sangat Thalut. Karena itu, kedua malaikat itu berkata: “kami adalah fitnah maksudnya ujian dari Allah, kami mengabarkan bahwa sihir itu adalah perbuatan kufur. Jika kamu mengikuti nasihat kami, niscaya akan selamat, dan jika kamu tidak mengikuti kami, niscaya kamu celaka dan binasa”.
Dalam kesempatan lain, Imam  al-Qurthubi mengatakan bahwa Harut dan Marut itu diturunkan untuk mengajarkan kepada manusia larangan melakukan sihir. Keduanya mengatakan: “Janganlah kalian melakukan ini, jangan melakukan itu”, dan seterusnya.
Syaikh Thanthawi, rahimahullah, Syaikhul Azhar sebelumnya, dalam tafsirnya at-Tafsîr al-Wasîth menuturkan: “Jumhur mufassirin berpendapat bahwa kedua malaikat itu adalah dalam pengertian sebenarnya malaikat. Keduanya diturunkan oleh Allah untuk mengajarkan sihir kepada manusia sebagai ujian dan cobaan. Hal ini untuk menolak anggapan tukang sihir saat itu yang mengatakan bahwa para nabi itu dusta, juga mereka memengaruhi dan mengajak orang-orang saat itu untuk menyembah selain Allah. Kemudian Allah mengutus dua malaikat yang bernama Harut dan Marut.
Hanya saja, keduanya tidak mengajarkan sihir kepada siapa pun kecuali keduanya menasihati dengan mengatakan  bahwa apa yang diajarkannya itu  adalah bentuk sihir yang tujuannya sebagai ujian, untuk memisahkan mana yang mengikuti kemaksiatan sehingga ia sesat dibuatnya, dan mana yang meninggalkan kemaksiatan sehingga ia berada dalam petunjuk dan cahaya dari Allah. Di samping itu juga untuk menampakkan perbedaan yang nyata antara mukjizat dengan sihir”.
Kemudian perlu disampaikan juga, riwayat-riwayat yang berkaitan dengan kisah Harut dan Marut ini sangat banyak. Riwayat-riwayat dimaksud datang bukan dari Rasulullah saw, akan tetapi dari para tabi’in, seperti Mujahid, Hasan Bashri, Qatadah dan lainnya. Tidak ada riwayat yang sahih yang langsung menyambung kepada Rasulullah saw.
Ada satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya yang bersambung kepada Rasulullah saw, hanya saja riwayatnya lemah, karena di dalamnya ada rawi bernama Musa bin Jubair, yang oleh para ulama hadis seperti Imam al-Haitsami dalam Majmauz Zawâid dinilai sebagai rawi daif. Terlebih, menurut para ulama, riwayat-riwayat seputar kisah Harut dan Marut yang banyak disebutkan dalam kitab-kitab tafsir seperti dalam Tafsir at-Thabari adalah berita-berita Israiliyyat yang tertolak.
Mengakhiri pembicaraan Harut Marut ini, ada perkataan Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 102 di atas. Ibnu Katsir mengatakan:  “Kisah Harut dan Marut banyak diriwayatkan kisahnya dari sekelompok tabi’in seperti Mujahid, as-Suddy, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, Abul ‘Âliyyah, az-Zuhry, ar-Rabi’ bin Anas, Muqatil, Ibnu Hayyan dan yang lainnya. Demikian juga, kisahnya banyak diceritakan oleh para mufassir, baik yang terdahulu ataupun yang belakangan. Kesimpulannya, semua kisah secara teperincinya merupakan kisah-kisah Bani Israil, karena tidak ada satu pun hadis Marfu’ yang sahih yang bersambung sanadnya kepada Rasulullah saw yang menceritakan akan hal itu. Sedangkan Al-Quran menceritakan kisahnya secara global, tanpa penjelasan yang panjang.  Karena itu, kami mengimani apa yang ada dalam Al-Quran menurut kehendak Allah, dan hanya Allah yang lebih mengetahui hakikat sebenarnya.

[sumber: penerbitzaman]

BIOGRAFI TGKH.M.ZAINUDDIN ABD. MADJID

Assalamu'alaikum wr.wb.

numpang COPAS gan....

silahkan dibaca, semoga bermanfaat...

BIOGRAFI TGKH MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJID

A. Latar Belakang Keluarga TGKH Muhammad Zainuddi Abdul Majid

            Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddi Abdul Majid dilahirkan di Kampung Bermi Pancor Lombok Timur pada tanggal 17 Rabi’ul Awal 1315 H, nama kecil beliau adalah Muhammad Syaggaf dan berganti nama menjadi Haji Muhammad Zainuddin setelah menunaikan setelah menunaikan ibadah haji. Yang mengganti nama beliau adalah ayah beliau sendiri, yaitu Tuan Guru Haji Abdul Majid.  Mana itu diambil dari mana seorang ulama’ besar, guru di Masjidil Haram, yang akhlak dan kepribadiannya sangat menarik hati sang ayah, yaitu Syeikh Muhammad Zainuddin Serawak.[1]
            Penamaan Muhammad Saggaf memiliki cerita yang cukup unik. Tiga hari menjelang kelahirannya, ayahnya didatangi oleh dua orang wali yang berasal dari Hadlramaut dan Maghrabi. Kedua wali tersebut secara kebetulan mempunyai nama yang sama, yakni Saqqaf. Keduanya berpesan kepada Tuan Guru Kyai Haji Abdul Majid, jika mempunyai anak, agar diberi nama Saqqaf, seperti nama mereka berdua.[2]
            Kata Saqqaf balam bahasa arab berarti mrmbuat atap atau mengatapi. Kata ini kemudian di Indonesiakan menjaddi Saggaf dan di karenakan berada di daerah Lombok Nusa Tenggar Barat yang masih kental dengan budaya daerahnya sehingga nama tersebut di dialekkan kedalam bahasa daerah yang biasa disebut bahasa sasak menjadi Segep, dan pada masa kecilnya pun beliau kerap dipanggil dengan panggilan Gep.
            Disamping  itu, terdapat keunikan lain seputar kelahirannya, yaitu adanya cerita gembira yang dibawa oleh seorang wali, bernama Syeikh Ahmad Rifa’I yang juga berasal dari Maghrabi. Ia menemui Tuan Guru Haji Abdul Majid menjelang kelahiran putranya. Syekh Ahmad Rifa’I berkata kepada Tuan Guru Haji Abdul Majid “Akan segera lahir dari istrimu seorang anak laki-laki yang akan menjadi ulama’ besar”.[3]
            Dengan adanya keunikan-keunikan yang terjadi menjelang kelahiran putranya yang kemudian dimamakan Muhammad Saggaf, Tuan Guru Haji Abdul Majid dan istrinya merasa senang dan gembira karena kelahiran puteranya disambut dan dinantikan oleh para ulama dan para wali-wali Allah.
            Beliau adalah anak bungsu yang lahir dari perkawinan antara Tuan Guru Haji Abdul Majid dengan seorang wanita shalihah yang berasal dari desa Kelayu Lombok Timur, yang bernama Inaq Syam dan lebih dikenal dengan nama Hajjah Halimatus Sya’diyah. Beliau memiliki saudara kandung sebanyak lima orang, diantaranya yaitu: Siti Syarbini, Siti Cilah, Hajjah Saudah, Haji Muhammad Shabur dan Hajjah Masyithah.
            Sejak kecil beliau terkenal sangat jujur dan cerdas. Kerena itu, tidak mengherankan kalau ayah bundanya memberikan perhatian khusus dan meumpahkan kecintaan serta kasih sayang demikian besar kepada beliau. Ketiaka beliau melawat ke tanah suci Makkah Al Mukarramah untuk melanjutkan studi, ayah bundanya ikut mengantar ke tannah suci. Ayahandanyalah yang mencarikan beliau guru, tempat beliau pertama kali belajar di Masjidil Haram, bahkan ibundanya, Hajjah Halimatus Sya’diyah ikut mukim di tanah suci mengasuh dan mendampingi beliau sampai ibundanya yang tercinta itu berpulang ke rahmatullah tiga setengah tahun kemudian dan dimakamkan di Mu’alla Makkah.[4]
            Nama Muhammad Saggaf masih disandangnya sampai ia berangkat ke tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji bersama ayahnya. Setelah menunaikan ibadah haji, nama Muhammad Saggaf diganti menjadi Haji Muhammad Zainuddin oleh ayahnya sendiri sebagaimana  yang tertera pada paragfaf di atas dan sejak saat itu nama beliau berubah menjadi Haji Muhammad Zainuddin.
            Tentang silsilah keturunan beliau yang lengkap tidak dapat dikemukakan secara utuh dikarenakan dokumen dan catatan silsilah keturunan beliau ikut terbakar ketika rumah orang tua  beliau mengalami kebakaran. Namun yang jelas beliau terlahir dari keturunan keluarga yang terpandang dan garis keturunan terpandang pula yaitu keturunan Selaparang. Selaparang adalah nama Kerajaan Islam yang pernah berkuasa di Pulau Lombok.
Tuan Guru Kyai haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid selama hayatnya telah menikah sebanyak tujuh kali. Dari ketujuh perembuan yang pernah dinikahinya itu, ada yang mendapinginya sampai wafat, ada yang wafat terlebih dahulu semasih ia hidup dan ada yang diceraikannya setelah beberapa bulan menikah. Disamping itu, ketujuh perempuan yang telah dinikahinya itu, berasal dari berbagai pelosok daerah di Lombok, dan dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari keluarga biasa, ada pula yang berlatar belakang bangsawan, seperti istrinya yang bernama Hajjah Baiq[5] Siti Zahriyah Makhtar, berasal dari desa Tanjung, Kecamatan Selong.
Adapun nama-nama perempuan yang pernah dinikahi oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, adalah: Satu, Chasanah; Dua, Hajjah Siti Fatmah; Tiga, Hajjah Raihan; Empat, Hajjah Siti Jauhariyah; Lima, Hajjah Siti Rahmatullah; Enam, Hajjah Baiq Siti Zuhriyah Mukhtar; Tujuh, Hajjah Adniyah.[6]
            Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid Sulit sekali memperoleh keturunan, sehingga beliau pernah dianggap mandul padahal beliau sendiri sangat mengiginkan keturunan yang akan melanjutkan perjuangan beliau untuk mengembangkan dan menegakkan ajaran-ajaran Islam. Dan pada akhirnya beliau dianugrahkan dua orang anak dari istri yang berbeda yaitu:
  1. Hajjah Siti Rauhun daru Ummi Jauhariyah
  2. Hajjah Siti Raihanun dari Ummi Rahmatullah
Karena dengan hanya memiliki dua orang anak tersebut beliau kerap dipanggil dengan sebutan Abu Rauhun wa Raihanun.

B. Pendidikan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid
            Perjalanan Tuan Giru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dalam menuntut ilmu pengetahuan diawali dengan pendidikan yang di lakukan di dalam lingkungan keluarga, yakni dengan belajar mengaj yaitu membaca Al-Qur’an dan berbagai ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Tuan Guru Haji Abdul Majid. Pendidikan yang diberikan oleh ayahnya tersebut dimulai semenjak beliau berusia 5 tahun dan kemudian memasuki pendidikan formal semenjak berusia 9 tahun. Sekolah formal yang beliau mesuki adalah sekolah umu yang pada saat itu disebut dengan Sekolah Rakyat Negara (Sekolah Gubernemen) di Selong Lombok Timur. Di sekolah tersebut beliau belajar selama 4 tahun hingga tahun 1919 M.
              Setelah menamatkan pendidikan formalnya pada Sekolah Rakyat Negara pada tahun 1919 M, ia kemudian diserahkan oleh ayahnya untuk belajar ilmu pengetahuan agama yang lelbih luas lagi pada beberapa kyai local saat itu, antara lain Tuan Guru Haji Syarafuddin dan Tuan Guru Haji Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru Haji Abdullah bin Amaq Dulaji dari Kelayu Lombok Timur. Dari beberapa kyai local ini, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin selain mempelajari ilmu-ilmu agama dengan menggunakan kitab-kitab Arab Melayu, juga secara khusus mempelajari ilmu-ilmu gramatika bahasa Arab, seperti ilmu Nahwu dan Syarf.[7]
            Pola pengajaran yang dilakukan oleh kyai-kyai lokal ini masih bersifat klasik. Yaitu masih menggunakan system halaqoh, yang dalam pembelajarannya murid-murid duduk bersila dan sang guru memberi pengajaran dengan membacakan kitab yang dipelajari kemudian para murid masing-masing mebacanya saling bergantian satu persatu..
Pada saat ini system pengajaran seperti ini sering digunakan pada pondok pesantren yang berbasis salafi. Berhubung pada saat itu sangat janrang ditemukan system pengajaran yang bersifat klasikal atau menggunakan kelas-kelas sehingga para murid duduk di atas bangku dan sang guru mengajarkan menggunakan papan tulis sebagai media pengajaran. Apalagi pada saat itu berbeda dengan zaman yang dialami saat ini, yaitu pada saat itu apabila seorang murid ingin mempelajari suatu ilmu apalagi ilmu agama mesti ke rumah sang guru untuk meminta kepada guru tersebut untuk mengajarinya tentang ilmu pengetahuan yang ia miliki. Namun pada saat ini sangatlah berbeda apabila seorang murid ingin menuntut ilmu, meka hanya tinggal meminta pada orang tuannya untuk memasukkannya pada pondok pesantren dan kemudian mendalami tentang ilmu agama dan berbagai macamnya didalamnya.
Selanjutnya Muhammad Noor dan kawan-kawan dalam buku Visi Kebangsaan Relijius lebih jauh mengungkapkan bahwa Bagi Tuan Guru Haji Syarafuddin, Muhammad Saggaf merupakan murid yang istimewa. Keistimewaan tersebut mendorong gurunya untuk membebaskannya dari membanntu gurunya bekerja di sawah. Pada saat itu murid-murid yang mengaji di rumah seorang tuan guru tidak dipungut bayaran. Sebagai gantinya, mereka dihariskan berkerja disawah tuan guru tersebut. Berbeda dengan Muhammad Saggaf, karena keinginan kuat ayahnya agar ia menjadi murid yang pandai, ayahnya sanggup dengan membayar dengan 200 ikat padi setahun (sekitar 2 ton padi/gabah), sebagai ganti kewajiban bekerja disawah. Maksud ayahnya dengan kesediaan ini adalah agar anaknya tidak terganggu aktivitas belajarnya, sehingga ia berkonsentrasi pada pelajarannya.
Menjelang musim haji pada saat itu sekitar tahun 1923 M, Muhammad Saggaf yang pada saat itu tengah berusia 15 tahun, berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk melanjutkan studinya, memperdalam berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan islam dengan di antar langsung oleh kedua orang tuanya bersama tiga orang adiknya, yaitu: H. Muhammad Fishal, H. Ahmad Rifa’I, dan seorang kemenakannya. Bahkan pada saat itu salah seorang gurunya ikut serta dalam rombangan itu, yaitu Tuan Guru Haji Syarafuddin dan beberapa anggota keluarga dekat lainnya. Beliau belajar di Tanah Suci Makkah selama 12 tahu.
Di kota suci Makkah Al-Mukarramah beliau mula-mula belajar di masjidil Haram, ayahnya pun sangat selektif dalam mencarikan dan menentukan seorang guru yang akan mengajar dan mendidik putra kesayangannya itu. Ayahandanya meyakini bahwa seorang guru adalah sumber ilmu dan kebenaran serta menjadi contoh dan panutan bagi muridnya dalam segala aspek kehidupan baik dalam pola berfikir dan berperilaku, sehingga ilmu dan didikan yang diperoleh sang murid berguna dan bermanfaat bagi kehidupan baik di dunia dan di akhirat.
Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ayahnya sibuk mencarikannya seorang guru yang tepat dan cocok untuk mengajari dan mendidik anaknya. Kemudian bertemulah ayahnya dengan seorang syeikh yang belakangan dikenal dengan Syeikh Marzuki. Dari cara dan metode yang digunakan dalam mengajat Tuan Guru Haji Abdul Majid merasa cocok jika syeikh tersebut menjadi guru bagi anaknya.
Syaikh Marzuki adalah seorang keturunan Arab kelahiran palembang. Ia sudah lama tinggal di Makkah dan mengajar mengaji di Masjidil Haram. Ia fasih berbahasa Indonesia dan Arab. Kebanyakan muridnya berasal dari Indonesia. Ada yang berasal dari Palembang, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Lombok. Salah seorang murid Syeik Marzuki yang berasal dari Lombok bernama H. Abdul Kadir dari desa Mamben Lombok Timur. H. Abdul Kadir sudah setahun lebih belajar di Makkah pada waktu itu.[8]
Namun pada akhirnya Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, merasakan ke tidak cocokan terhadap Syeikh Marzuki karena merasa tidak banyak mengalami perkembangan yang berarti dalam menuntut ilmu. Karena pada saat itu sang guru mengajarkan kitab gundul yang tidak memiliki baris sedangkan beliau masih murid baru dan dapat dikatakan masih awam dalam mempelajari kitab-kitab gundul yang tidak memiliki baris tersebut, sehigga beliau berfikiran ingin memulai pelajarannya dari awal agar mampu membaca dan memahami makna yang terkandung dalam kitab gundul tersebut. Setelah ayahnya pulang ke Lombok beliau langsung berhenti  balajar mengaji pada Syeikh Marzuki.
Dua tahun setelah terjadinya huru hara di Makkah karena perang ssaudara antara faksi Wahabi dengan kekuasaan Syarif Hussein, stabilitas keamanan relative terkendali. Pada saat itu Muhammad Zainuddin berkenalan dengan seorang yang bernama Haji Mawardi yang berasal dari Jakarta. Dari perkenalan itu beliau diajak untuk ikut belajar di sebuah madrasah legendaries di Tanah Suci, yakni Madrasah al-Shaulatiyah yang pada saat itu di pimpin oleh Syeikh Salim Rahmatullah putra Syeikh Rahmatullah, pendiri Madrasah al-Shaulatiyah. Madrasah ini adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam dunia pendidikan di Saudy Arabia. Gaungnya telah menggema ke seluruh dunia dan telah banyak mencetak ulama’-ulama’ besar dunia. Di Madrasah al-Shaulatiyah inilah beliau belajar berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam dengan sangat rajin dan tekun di bawah bimbingan ulama’-ulama’ terkemuka kota Suci Makkah waktu itu.
 Pada hari pertama beliau masuk di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah beliau bertemu dengan Syeikh Hasan Muhammad al-Masyath yang nantinya akan menjadi gurunya yang hubungannya paling dekat. Di sana juga ia bertemu Syeikh Sayyid Muhsin al-Musawa, diantara temannya sewaktu belajar syair pada Syeikh Sayyid Amin al-Kutbi, yang ternyata juga sebagai salah seorang guru di madrasah ini.
Sudah menjadi tradisi di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah bahwa setiap murid baru yang masuk harus mengikuti tes untuk menentukan kelas yang tepat dan cocok untuk murid baru tersebut. Demikian juga halnya dengan Muhammad Zainuddin, beliau juga diuji terlehih dahulu. Dan secara kebetulan beliau diuji langsung oleh murid al-Shaulatiyah sendiri yaitu Syeikh Salim Rahmatullah bersama dengan Syeikh Hasan Muhammad al-Masyath.
Dan pada akhirnya Syeikh Hasan Muhammad al-Masyath menentukan masuk di kelas III. Padahal beliau belum terlalu menguasai ilmu nahwu-syaraf yang diajarkan di kelas II. Mendengar keputusan tersebut, kemudian beliau meminta untuk diperkenankan masuk di kelas II, dengan alasan iingin mendalami mata pelajjaran nahwu-sharaf. Walaupun pada awalnya Syeikh Hasan Muhammad al-Masyath bersikeras dengan keputusannya, namun argumentasi yang dikemukakan oleh Muhammad Zainuddin membuatnya berfikir kembali. Kemudian Syeh Hasan pun mengabulkan permohonannya, dan resmilah beliau diterima di kelas II.
Di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah Muhammad Zainuddin mulai tekun belajar. Ia ingin membuktikan kemampuannya menguasai ilmu dengan baik. Di malam dan sore hari beliau belajar kepada beberapa guru yang lain. Dirumah juga beliau manghabiskan waktunya untuk belajar. Salah satu bentuk ketekunannya dalam belajar adalah besarnya porsi waktu yang disediakan untuk membaca kitab-kitab mulai dari setelah shalat tahajjud sampai waktu shalat subuh tiba. Pernah suatu ketika beliau tertidur pada saat membaca kitab. Padahal di hadapannya terdapat sebuah lampu minyak sebagai alat penerang beliau dalam membaca. Tanpa beliau sadari surban beliau terlalap api dari lampu minyat tersebut dan terbakar. Mencium bau benda terbakar ibunya pun terbangun. Sementra beliau masih tertidur dengan lelapnaya, kemudian ibunya pun berteriak membangunkannya. Beliaupun terkejut dan terbangun.
Kebiasaan beliau membaca dan belajar dalam kaktu yang cukup lama menyebabkan mata beliau mengalami gangguan. Meskipun demikian beliau masih tetap mampu mempertahankan kebiasaan membaca dan belajarnya tersebut sampai waktu yang cukup lama.
Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil. Beberapa orang gurunya mengakui bahwa beliau tergolong murid yang cerdas. Syeikh Salim Rahmatullah sebagai kepala Madrasah al-Shaulatiyah selalu mempercayakan beliau untuk menghadapi Penilik Madrasah pemerintah Saudi yang sering kali datang ke madrasah itu. Penilik madrasah itu meenganut faham Wahabi. Dan beliaulah satu-satunya murid Madrasah al-Shaulatiyah yang dianggap menguasai faham Wahabi. Pertanyaan penilik itu biasanya menyangkut soal-soal hokum ziarah kubur, tawasul kepada anbiya’ dan auliya’, bernazar menyembelih kambing berbulu hitam atau putih dan sebagainya. Dan beliau selalu berhasil menjawab pertanyaan penilik itu dengan memuaskan.
  Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Ia berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Di samping itu, dengan kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 6 tahun. Padahal waktu belajar normal adalah 9 tahun, yaitu mulai dari kelas I sampai dengan kelas IX. Dari kelas II, ia langsung ke kelas IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik ke kelas VII,VIII dan IX.[9]

C. Guru-Guru Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid
a). Guru yang Mengajarkan Al-Qur’an dan Kitab Melayu di Lombok
  1. T.G.H. Abdul Majid;
  2. T.G.H. Syarafuddin Pancor Lombok Timur;
  3. T.G.H. Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur;
b). Guru di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah
  1. Maulana Wa Murabbina Abu Barakat al-‘Allamah al-Ushuli al-Mudadditsbal-Shufi al-Syeikh Hasan Muhammad al-Mahsyat al-Maliki;
  2. Al-‘Allamah al-Syaikh Umar Bajunaid al- Syafi’I;
  3. Al-‘Allamah al-Syaikh Muhammad Syaid al-Yamani al-Syafi’I;
  4. Al-‘Allamah al-Kabir Mutaffanin Sibawaihi Zanamihi al-Syaikh Ali al-Maliki;
  5. Al-‘Allamah al-Syeikh Marzuqi al-Palimbani;
  6. Al-‘Allamah al-Syaikh Abu Bakar al-Falimbani;
  7. Al-‘Allamah al-Syeikh Hasan Jambi al-Syafi’i;
  8. Al-‘Allamah al-Syeikh Abdul Qadir al-Mandili al-Syafi’i;
  9. Al-‘Allamah al-Syeikh Muhtar Betawi al-Syafi’i;
  10. Al-‘Allamah al-Syeikh Abdullah al-Bukhari al-Syafi’i;
  11. Al-‘Allamah al-Muhadditsin al-Kabir al-Syeikh Umar Hamdan al-Mihrasi al-Maliki;
12.  Al-‘Allamah al-Muhadditsin al-Syaikh Abdus Sattar al-Syiddiqi Abdul Wahab al-Kutbi al-Maliki;
  1. Al-‘Allamah al-Kabir al-Syeikh Abdul Qodir al-Syibli al-Hanafi;
  2. Al-‘Allamah al-Adib al-Syeikh Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafi;
  3. Al-‘Allamah al-Syaikh Muhsin al-Musahwa al-Syafi’i;
  4. Al-‘Allamah al-Falaqi Maulana al-Syaikh Khalifah al-Maliki;
  5. Al-‘Allamah al-Jalil al-Syaikh Jamal al-Maliki;
  6. Al-‘Allamah al-Syeikh al-Shalih Muhammad Shalih al-Kalantani al-Syafi’i;
  7. Al-‘Allim al-‘Allamah al-Syafi’i Maulana Syaikh Mukhtar al-Makhdum Al Hanafi;
  8. Al-‘Allamah al-Syeikh Salim Cianjur al-Syafi’i;
  9. Al-‘Allamah al-Syeikh Syaikh al-Syayid Ahmad Dahlan Shadaqi al-Syafi’i;
  10. Al-‘Allamah Mu’arrikh al-Syeikh Salim Rahmatullah al-Maliki;
  11. Al-‘Allamah al-Syeikh Abdul Gani al-Maliki;
  12. Al-‘Allamah al-Syeikh al-Syayid Muhammad Arabi al-Tubani al-Jazairi al-Maliki;
  13. Al-‘Allamah al-Syeikh Umar al-Faruq al-Maliki;
  14. Al-‘Allamah al-Syeikh al-Wa’id al-Syaikh Abdullah al-Faris;
  15. Al-‘Allamah al-Syeikh Malla Musa;[10]
Jika di klasifikasikan guru-gurunya berdasarkan latar belakang mazhab yang berbeda, maka akan terlihat katagorisasi mazhab sebagai berikut:
  1. 11 orang bermazhab Syafi’;
  2. 6 orang bermazhab Hanafi; dan
  3. 11 orang bermazhab Maliki.[11]
Merdasarkan kategorisasi mazhab diatas terlihat jelas bahwa semua guru-guru beliau masih berada dalam satu landasan teologis yang sama, yakni faham Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah.[12] Dengan kata lain, bahwa tidak ada seorang pun gurunya yang menganut faham teologis yang berbeda, seperti Mu’tazillah, Syi’ah ataupun Wahabi.

D. Karya-Karya Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid
            Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, selain tergolong ulama yang berbobot dalam bidang keilmuan, beliau juga termasuk penulis dan pengarang yang produktif. Bakat dan kemampuannya tersebut tumbuh dan berkembang semenjak beliau belajar di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah. Akan tetapi karena kepadatan dan banyaknya acara kegiatan keagamaan dalam masyarakat yang harus di isai oleh beliau, sehingga peluang dan kesempatan beliau untuk mengarang dan memperbanyak tulisannya hampir tidak pernah ada.
Itulah sebabnya pada beberapa kesempatan beliau mengungkapkan keadaan seperti ini kepada muridnya, bila mana beliau teringat pada kawan seperjuangan di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah yang juga telah tergolong ulama’ besar dan pengarang terkenal seperti Maulana Syeikh Zakaria Abdullah Bila, Maulana Syeikh Yasin Padang dan lain-lain. Mereka sekarang ini memiliki karya-karya besar dalam bidang tulis menulis dan karang-mengkarang.
Dalam hal ini TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid tidak pernah berkecil hati, walaupun kawan seperguruannya menonjol dalam bidang tersebut. Beliau menyadari akan hal ini, karena situasi dan kondisi kehidupan ummat dan masyarakat yang dihadapi sangat jauh berbeda, yaitu masyarakat Makkah di satu pihak dan masyarakat Indonesia di lain pihak. Beliau pernah mengatakan “Seandainya aku mempunyai waktu dan kesempatan yang cukup untuk menulis dan mengarang, niscaya aku akan mampu menghasilkan karangan dan tulisan-tulisan yang lebih banyak, seperti yang dimiliki Syeikh Zakaria Abdullah Bila, Syeikh Yasin Padang, Syeikh Ismail dan ulama’-ulama lain tamatan Madrasah al-Shaulatiyah Makkah”.[13]
Dikarenakan sebagian besar dan seluruh waktu dan kehidupan beliau di manfaatkan dan dipergunakan untuk mengajar dan terus mengajar dan berdakwah keliling untuk membina umat dalam upaya menanamkan Iman dan Taqwa, sehingga dengan kegiatannya yang padat dan terus berkesinambungan sehingga membuat beliau tidak memiliki cukup banyak waktu untuk menulis dan mengarang. Dan bahkan beliau tidak pernah putus semangat untuk menghabiskan waktunya berjuang demi kepentingan umat, sebagaimana ucapan dan ikrar beliau sendiri “Aku wakafkan diriku untuk ummat”.
Sekalipun dalam keadaan yang sangat sibuk seperti itu, beliau masih menyempatkan dirinya untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya tersebut. Bagi beliau mengarang dan tulis menulis bukanlah suatu tugas dan pekerjaan yang sulit, karena hal ini merupakan kemampuan dasar yang di anugrahkan Allah SWT kepada beliau, bakat dan kemampuannya inilah yang terus dibawa sehingga tumbuh dan berkembang semenjak beliau bersekolah di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah, sehingga tidak mengherankan apabila beliau  mendapatkan banyak pujian dari  guru-guru beliau.
Diantara karya tulis dan karangan-karangan beliau adalah:[14]
a). Dalam Bahasa Arab
1).          Risalah Tauhid dalam bentuk soal jawab (Ilmu Tauhid)
2).          Sullamul Hija Syarah Safinatun Naja (Ilmu Fiqh)
3).          Nahdlatul Zainiyah dalam bentuk nadzam (Ilmu Faraidl)
4).          At Tuhfatul Ampenaniyah Syarah Nahdlatuz Zainiyah (Ilmu Faraidl)
5).          Al Fawakihul Ampenaniyah dalam bentuk soal jawab (Ilmu Faraidl)
6).          Mi’rajush Shiibyan Ila Sama’i Ilmi Bayan (Ilmu Balaghah)
7).          An Nafahat ‘Alat Taqriratis Saniyah (Ilmu Mushtalah Hadits)
8).          Nailul Anfal (Ilmu Tajwid)
9).          Nizib Nahdlatul Wathan (Da’a dan Wirid)
10).      Hizib Nahdlatul Banat (Do’a dan Wirid kaum wanita)
11).      Shalawat Nahdlatain (Shalawat Iftitah dan Khatimah)
12).      Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan (Wirid Harian)
13).      Ikhtisar Hizib Nahdlatul Wathan (Wirid Harian)
14).      Shalawat Nahdlatul Wathan (Shalawat Iftita)
15).      Shalawat Miftahi Babi Rahmatillah (Wirid dan Do’a)
16).      Shalawat Mab’utsi Rahmatan Lil ‘Alamin (Wirid dan Do’a)
17).      Dan lain-lainnya.
b). Dalam Bahasa Indonesia dan Sasak
1).    Batu Nompal (Ilmu Tajwid)
2).    Anak Nunggal Taqrirat Batu Ngompal (Ilmu Tajwid)
3).    Wasiat Renungan Masa I dan II (Nasihat dan petunjuk perjuangan untuk warga Nahdlatul wathan)
c). Nasyid/Lahu Perjuangan dan Dakwah dalam Bahasa Arab, Indonesia dan Sasak
1).          Ta’sis NWDI (Anti ya Pancor biladi)
2).          Imamunasy Syafi’i
3).          Ya Fata Sasak
4).          Ahlan bi wafdizzairin
5).          Tanawwarr
6).          Mars Nahdlatul Wathani
7).          Bersatulah Haluan
8).          Nahdlatain
9).          Pau gama’
10).      Dan lain-lain.



[1] TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, Nadzam Batu Ngompal Terjemah  Tuhfatul Atfal, (Jakarta: Nahdlatul Wathan Jakarta, 1996), hal. 9.
[2] Muhammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan Religius Refleksi Pemikiran dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid 1904-1997, (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 2004), Cet, Ke-1, hal. 122.
[3] Muhammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan…, hal. 123.
[4] TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, Nadzam Batu Ngompal…, hal. 9-10.
[5] Baiq adalah gelar kebangsawanan bagi perempuan yang secara stratifikasi social masyarakat Lombok berada satu tingkat di atas masyarakat umum, dan dua tingkat di bawah strata tertinggi, yakni Datu Bini dan Denda. Biasanya gelar Baiq ditujukan kepada mereka yang belum menikah. Setelah menikah gelar tersebut berubah menjadi Mamiq Bini.
[6] Muhammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan…, hal. 125.
[7] Muhammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan…, hal. 134.
[8] Muhammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan…, hal. 136.
[9] Muhammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan…, hal. 142.
[10] Muhammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan…, hal. 144-145.
[11] Muhammad Noor, dkk, Visi Kebangsaan…, hal. 147.
[12] Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah adalah faham teologis yang menekankan harmonitas antar dua variable, yaitu rasionalitas Mu’tazillah dan predetermenisme Jabariah. Faham ini secara teologis mengacu pada pemikiran Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Faham ini kemudian memasuki wilayah fiqh yang dapat di temukan pada pemikiran Imam Mazahib al-Arba’ah, dan pada wilayah tasawuf dapat dilihat pada pemikiran sufistik Abu Hamid al-Gozali.
[13] TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, Nadzam Batu Ngompal…, hal. 15.
[14] TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, Nadzam Batu Ngompal…, hal. 16-17.

KATA-KATA BIJAK

Assalamu'alaikum wr.wb
kawanku yang baik hati numpang post kata- kata bijak, semoga bisa jadi motivasi kita bersama....
  • Janganlah terburu-buru kala melakukan suatu hal konsentrasi saja dng gagasan yg telah kamu bikin cocok prioritasnya.
  • ada waktunya kita cicara, ada waktunya kita mendengar, kita bicara supaya orang lain mampu mengetahui, kita mendengar supaya kita dapat mengetahui.
  • perbuatan salah merupakan biasa untuk manusia, namun perbuatan pura-pura tersebut sbenarnya yg mnimbulkan permusuhan serta penghianatan.
  • anda gak bakal dapat merubah keslahan kmarin, namun anda bakal dapat mengawali yg baru dng cermin kekeliruan kmarin
  • tuhan tidak turunkan takdir demikianlah saja. tuhan tambahkan takdir pas dengan apa yang kita laksanakan. kalau kita maju dan mengusahakan, tuhan mampu tambahkan takdir kesuksesan. kalau kita lengah dan malas, lantas tuhan mampu tambahkan takdir kegagalan.
  • dapatkan kebahagiaan hari ini dng bersyukur dari perihal kecil yg bakal mnuntun km besok menggapai perihal besar
  • pengen mempunyai rekan hidup ? pengen mempunyai pernikahan yang bahagia ? awalilah dengan jatuh cinta lantas membangun cinta
  • jatuh cinta itu gampang sebab ia di dalam kondisi suka, tetapi porsi terbesar yaitu membangun cinta seumur hidup, walau di dalam kondisi jengkel serta tidak nyaman.
  • 3 ciri-ciri pemenang kehidupan 1. bersukacita di dalam pengharapan 2. bersabar di dalam kesesakan 3. menekuni di dalam doa
  • hati si pemalas penuh kemauan, tapi percuma, sedang hati orang rajin diberi kelimpahan.
  • tangan orang rajin memegang kekuasaan, tapi kemalasan menyebabkan kerja paksa.
  • siapa bergaul dengan orang bijak jadi bijak, tapi siapa berteman dengan orang bebal jadi malang
  • carilah lelaki yang dapat menyukai kekuranganmu. sebab cinta itu gak butuh khusus di hati tetapi untuk dapat di buat jadi pelindungmu serta panutanmu
  • ketidaknyamanan di dalam perihal menyukai merupakan berkenaan satu permasalahan yang lama di pendam serta tuturnya telah memaafkan kelanjutannnya di ungkit lagi
  • kekecewaan serta kebencian dengan orang yang telah bikin hati ini sakit. itu juga ada batasanya sebab bila terlampau kecewa serta membenci bakal berefek dendam serta tidak lagi dulu dapat melupakannya dari hati serta fikiran kita.
  • janganlah dulu bahagia pada apa yang udah ada punya waktu ini, tapi berusahalah terus untuk suatu hal yang tidak dulu anda renungkan sebelumnya
  • bila duit dapat membuatku melupakan sobat terbaikku, maka saya lebih pilih untuk tidak mempunyai duit sekalipun
  • disaat keadaan mengharuskan menangis lantas menangislah, kerena menangis tidaklah isyarat orang lemah
  • sobat menjadi dia yang tahu kekuranganmu, tetapi beri kelebihanmu. dia yang tahu ketakutanmu, tetapi beri keberanianmu
  • bila kita tetap memikirkan beberapa hal yang kecil, maka kita tidak lagi dulu mampu berfikir untuk beberapa hal yang besar
  • kala kita menyukai seseorang kita amat bahagia serta amat brsyukur pada allah. . namun di kala kita patah hati keseringan atau rata-rata orang menjadi bahwa allah tidak adil pada kita, tanpa kita sadari maupun berfikir bahwa allah bisa saja bakal menggatikan org tersebut dgn yg tambah baik untuk kita. janganlah lah menyesal disaat kita mesti kehilangan orang yg kita cintai karna bisa saja dy bukan hanya yg paling baik untk kita. . yakinkan allah tidak bisa berencana perihal jelek pada kita, smua tentu ada alasan serta ada hikmah yg baik untuk kita.
Semoga himpunan kata kata bijak terbaru diatas dapat berfaedah serta mempunyai faedah yang baik terutama untuk anda yang terus perlu pencerahan hati serta pikiran agar dapat mengendalikan diri anda sendiri agar dapat sehingga jadi lama baik serta dapat berfaedah untuk orang banyak khususnya keluarga anda. dengan kata bijak ini, gampang mudahan saja dapat memudarkan keegoisan seseorang serta dapat berpikir dengan bijak.